Beware with ur wish

25 Rabiul Akhir 1430 H


Cerita nyata nih. Udah lama sih, tapi keliatannya masih pas untuk diceritain. Berhubung akhir-akhir ini banyak yang kehilangan. Untung yang kehilangan yang sabar ya, semoga antum mendaat hikmah dari kehilangan yang terjadi, dan semoga barang yang hilang diganti dengan yang lebih baik lagi, amin. Dan ya Allah, sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Engkau, dan akan kembali pada Engkau, berikanlah kami kesabaran atas segala hal yang telah Engkau tetapkan.


Kisah ini terjadi waktu saya masih les di LIA kira-kira waktu masih level HI-3. Disana kami sedang masuk ke bab tentang mimpi dan impian. Untuk itu teacher kami ketika itu, meminta agar seluruh siswa menyebutkan apa yang dia inginkan dan nanti teman-teman yang lainnya diminta untuk mengamini. Ketika itu impian kami bermacam-macam, ada yang minta biar lulus pendadaran, lulus UM, UAN, ada yang ingin jadi orang sukses (saya agak lupa spesifiknya),pokoknya macam-macam deh. Tapi ada yang menarik, salah satu dari teman kami ketika meminta agar ia bisa punya HP baru, dan ketika itu kami semua pun mengamini apa yang ia inginkan.


Lalu apa yang terjadi?


Ketika kami les hari Selasa, dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Pada hari Kamisnya, atau di next meeting dari kisah di atas, teman kami yang meminta HP baru tadi ternyata dikabulkan doanya. Mau tahu seperti apa? Ya, di hari itu tiba-tiba dia laporan kalau ternyata HP nya itu HILANG, ya hilang… Tahu kan maksudnya?


Ketika kami sekelas pun hanya terbengong-bengong, setengah tidak percaya, dan kembali mengingat kejadian di meeting sebelumnya. Dan teacher kami mengatakan, “whoho, spooky… watch out with ur wish”.


Tidak ada yang kebetulan, setidaknya itulah yang harus kita yakini ketika kita mengalami kejadian semacam ini. Ya, tidak ada kebetulan. Semua yang terjadi pasti telah terencana, dan rencana tersebut telah tersusun dengan sangat rapih, oleh Sang Pembuat Rencana. Setiap kejadian yang telah direncanakan-Nya, telah dibuat sepaket dengan sejuta hikmah dan makna, yang jika kita berhasil menemukan maka terasa kecilah rasa kehilangan tersebut.


Rasa ga enak, ga relo, nggelo, mungkin selalu muncul dalam dada. Tapi demi Allah, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Karena jika hanya sebatas rasa maka yang muncul bukanlah solusi tapi justru, kedongkolan, kemarahan ga jelas, dan rasa yang tidak enak terus menerus. So, gimana solusinya? Ya, kita harus tetap berikhtiar untuk kemudian mencari barang yang hilang tadi, bukan berarti ketika kita kehilangan sesuatu lalu kita pasrah saja tanpa berbuat apa-apa. Kita harus tetap berikhtiar, ya kita harus berikhtiar. Tapi ikhtiar tersebut tidak hanya berhenti untuk menemukan barang yang hilang saja, tetapi juga untuk mencari makna yang tersembunyi di dalamnya.


Rasa itu pasti akan tetap muncul, apalagi jika barang tersebut bukan milik kita pribadi. Tapi milik saudara kita, sahabat kita, atau orang yang terdekat dengan kita. Tapi mau bagaimana lagi? Hal tersebut telah terjadi dan tidak dapat diulang untuk diperbaiki. Yah, yang kami sampaikan disini merupakan bentuk ideal dari solusi hal tersebut. Sebagai manusia kami tetap memiliki rasa seperti yang temen-temen rasakan ketika mengalami hal tersebut. Mungkin justru kami lebih panic, lebih kacau, lebih pontang-panting dari temen-temen yang baca atau yang pernah mengalami hal tersebut.


Untuk itu, nasehat ini diharapkan dapat menenangkan hati yang bingung, hati yang resah, hati yang gelisah. Dimana dasarnya sebagai manusia, agar tidak menjadi manusia yang merugi, kita wajib saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.


Buat saudara-saudaraku yang baru saja kehilangan, yang sabar ya… yakinlah bahwa kehilangan benda sesungguhnya tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan kehilangan iman. Sabar, sabar, sabar… siapkan diri tuk hadapi konsekuensi, kuatkan ikhtiar tuk memperbaiki, pertebal iman tuk melewati apa yang terjadi, semoga Allah meridhoi…


Makna itu ada didalamnya, InsyaAllah…

Ibu, Ceritakan ku tentang ikhwan sejati

Didapat dari seorang teman.

Written by : Indrianti

Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…

Sang Ibu tersenyum dan menjawab… Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah… ?

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…

….setelah itu, ia kembali bertanya…

” Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”

Sang Ibu memberinya buku dan berkata…. “Pelajari tenteng dia…” ia pun mengambil buku itu

“MUHAMMAD”, judul buku yang tertulis di buku itu

WE WILL NOT GO DOWN (Lyric)

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
michealheart. com

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Disuatu Malam Yang Melankolis

Di suatu malam…


Apalah arti sebuah judul, kenapa jadi focus memikirkan judul??


Malam ini saya mendapatkan sebuah ilmu berharga. Ilmu yang mengingatkan saya kepada kata-kata seorang tokoh besar yang terlupakan. Setidaknya terlupakan oleh ingatan saya…


“Akan banyak hal besar yang dapat dilakukan, seandainya semua orang tidak peduli siapa yang mendapatkan nama”


Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan akan mendapat apa saya nanti dengan saya melakukan ini? [ Wah keren, saya akan dipandang hebat oleh teman-teman saya, saya akan dapet muka nih, dihadapan mas-mas dan mba-mba. Wah saya akan dilihat keren nih oleh para ikhwan atau akhwat. Dan lain sebagainya…]


Ikhwah tidak maksud apa-apa. Ini hanya sebuah renungan. Jujur setiap orang tidak akan ada yang sempurna, termasuk juga yang menulis. Jujur, jauh di dalam diri yang penuh kekotoran ini juga pernah terbesit perasaan seperti itu. [Pernah atau sering? Astagfirullah…]


Ikhwah, mari kita selalu luruskan niat kita. [Wahai lumpur kotor yang hina, sadarkanlah dirimu, tendang bila perlu, agar tersadar dan terbangun dari angan-angan semu mu!]


Malam ini saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dari sebuah film. Terkadang pahlawan bukanlah seorang pahlawan, dan penjahat bukanlah seorang penjahat. Karena orang yang mulia akan tetap mulia walaupun dipandang hina oleh seluruh orang di dunia, dan orang yang hina akan tetap hina walaupun dipuja-puja dan dimuliakan oleh seluruh orang di dunia.


Hanya Allah yang tahu, wallahu’alam bishawab…


Tanda ( [ ] ) adalah ucapan terhadap diri penulis sendiri, jangan terlalu dimasukan ke hati temen-temen

Tulisan Jadul : CHIO

Sabtu, 6 Desember 2008

Lagi-lagi terbesit pikiran untuk nulis, disaat banyak tugas, laporan praktikum menumpuk, persiapan presentasi tumpah ruah, dan persiapan tugas-tugas jangka panjang menanti. Aneh ya, kenapa selalu muncul disat seperti ini. Mana perut laper banget lagi, abis kena angin, jadi ngerasa enter wind (masuk angin maksudnya, hehe. Afwan yog, tak pinjem istilahnya antum, he).

Ok, ok, tapi mau nulis apa ya??? Sebenarnya masih bingung. Ini yang tak tulis juga cuma yang terbesit di hati. Hmm… oh iya, baru-baru ini saya baru aj baca sebuah buku sederhana buatan anak FLP Jogja yang gunain nama CHIO. Ga tau itu nama asli pa nama pena. Judulnya “Jangan Sadarin Cewek”. Sebuah buku yang menurutku kasar dari segi bahasa, dan dalem menancap disetiap yang baca, terutama para cewek. Pasti majleb-jleb-jleb, remuk, berdarah, dan pecah, hihihi kasihan. Tapi mungkin itu kenyataan…

Bukunya antitesa. Dia menyampaikan suatu maksud yang menurut saya mungkin ungkapan isi hati ikhwan-ikhwan hanif dengan pola pikir dan kata-kata cowok-cowok (maaf) brengsek. Afwan sebelumnya saya tidak ada maksud untuk mengklasifikasikan antara ikhwan dan cowok, kalimat sebelumnya hanya berupa penggambaran.

Walaupun ada beberapa topic yang terkesan “ketok rata” tapi overall cukup menggugah. Ya mungkin point-point yang “ketok rata” itu yang membuat saya berfikir kritis dalam melihat buku ini, dan menimbulkan sedikit rasa tidak setuju, di beberapa kata dan point. Tapi sekali lagi, overall ni buku menohok sekali (he, ga ding, hipos. Kalo buat sewek waras mungkin iya…). Tapi jujur, buku ini sempat membuat saya berkali-kali berucap istigfar. Masya Allah inikah fondasi pembangunan masa depan suatu negri, dimana wanita, ibu, dan umahat menjadi pusat pembelajaran pertama yang membangun sikap dan mental agent of change, para pemuda. Ya, keadaan sosok hawa di sebuah negri bernama Indonesia. Masya Allah, na’udzubillah min dzalik…

Yah… sepakat deh dengan CHIO, surga tu ditelapak kaki ibu, bukan di telapak kaki cewek. Apa bedanya!? Baca aja bukunya ndiri, biar lebih jelas. Tapi yang pasti, semoga ini hanya akan menjadi mimpi buruk yang akan tersadar ke dunia kenyataan yang penuh kebaikan. Everyone can change bro… at least, i hope so.

Dimanakah kita???

Tulisan Juuuuuaaaduuulll buanged ni… dah lama tulis, tapi baru bisa posting sekarang. Semoga bisa bermanfaat ya teman2….

———————————————————————————————————-

Dimanakah Kita?


Baru-baru ini seorang teman bercerita tentang keadaan dirinya yang sering ditekan keluarganya untuk melepaskan keIslamanya. Karena konon keluarganya adalah keluarga yang homogen dalam beragama. Bahkan antara ayah dan ibunya sendiri pun berbeda. Dan, dari sanalah konflik itu bermula. Ketika sang anak akhirnya menyadari bahwa dia sedang ditekan untuk keluar dari agama sempurna ini. Tapi Alhamdulillah hal tersebut belum berhasil, dan InsyaAllah dengan izin Allah dan bantuan dari kita semua hal itu tidak akan berhasil.


Cerita seperti di atas tidak hanya terjadi satu-dua orang di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, di Negara yang mayoritas Islam ini ternyata hanya seorang “muslim” merupakan kaum minoritas. Bisa kita lihat dimana-mana dimana seorang bernama Muhammad, Abdurrahman, Aisyah, dan seterusnya muncul diberita-berita, dengan kasus-kasus yang sangat menyedihkan. Pembunuhan, pemerkosaan, PSK, dan lain sebagainya. Belum lagi, diperparah dengan lemahnya kekuatan aqidah umat ini. Banyak umat Islam yang dengan mudahnya merelakan ke Islamannya, hanya demi sekardus mie instan, ongkos, kuliah, biaya rumah sakit, dan lain sebagainya. Hal ini bukan dimaksudkan untuk megeneralisir dari keadaan umat di Negara tercinta kita ini, namun hal ini bisa menjadi bahan perenungan kita sebagai seorang muslim, tentang keadaan umat kita saat ini. Seperti yang kita tau, sebagai umat Islam kitalah orang bertanggung jawab atas keadaan umat ini.


Dapat kita lihat, banyak orang yang mengaku Islam, tapi sayangnya hanya terbukti sebatas dengan sebuah kartu bernama KTP. Atau mungkin bahasa umumnya bisa dibilang Islam KTP. Kalau begitu yang masuk surga mending KTP nya aja ya. Cz yang Islam KTP nya bukan orangnya.


Dilain waktu pula, masjid rumah saya pernah kedatangan sekelompok jama’ah. Ja’maah ini memberikan khotbah singkat setiap habis salat Isya. Disalah satu khotbah disebutkan, bahwa yang lebih menyayat hati lagi, keadaan seperti ini tidak hanya terjadi di sini, dinegara ini. Tetapi di hampir seluruh Negara Islam. Bahkan di Mekkah Al-mukaramah (masyaAllah). Disana, diceritakan, bahwa di daerah yang hanya 400 meter dari baitullah (the holliest place on earth), masih sering terjadi pencurian (na’udzubillah).


Miris ya jika melihat keadaan umat yang seperti ini. Hal di atas hanyalah merupakan sebutir pasir masalah dari banyaknya masalah kita yang seperti pantai parang tritis (alias pasirnya buuaanyak banget). Tapi diantara pasir-pasir masalah tersebut, ternyata masih banyak orang-orang yang bertindak sebagai ombak, yang menyapu dan mengerosikan permasalahan umat. Mereka bagaikan secercah harapan bagi ditengah kegelapan umat ini. Sekarang masalahnya kembali kepada diri kita. Dimanakah kita? Apakah kita bersama mereka, atau hanya sebagai pihak yang medukung tapi hanya duduk berpangku tangan? Atau justru kitalah umat yang menentang mereka?


Sahabat, zaman ini telah membenarkan perkataan Rasulullah, tentang zaman dimana umat muslim menggenggam Islam seperti menggenggam bara api. Dan zaman itulah yang sedang kita jalani ini. Dan masalahnya dimanakah kita?

Dikala Sendiri Di Hari Senin

Udah lama g buka blog, sampe lupa id dan paswordnya…

Yaah mumpung sempet dan inget, sebenernya walaupun udah lama g posting di blog, an tetep nulis lho. Nah sekarang an mau publish salah satu di antara nya. He, cuma iseng aj. Sebenarnya ini tulisan lama, tapi br sempet di post sekarang. Makannya an kasihin tanggal…

………………………………………………………………………………………………………………….

Senin, 22 September 2008


Ditengah kesendirian dirumah,


Harusnya saat ini saya ngerjain laporan atau beres-beres untuk segera berangkat kuliah, tapi kenapa rasanya ingin nulis ya? Entahlah, ga tau. Tulisan kali ini hanya ingin mengungkapkan perasaan yang sedang berseliweran dihati. Yang ingin rasanya diekspresikan, tapi entah dengan apa dan bagaimana.


Hari ini saya kembali berfikir, ternyata hidup itu hanya sekumpulah detik yang tersusun menjadi menit, kemudian menjadi jam, hari, dan seterusnya. Semua terasa begitu singkat. Saya berfikir, nanti bagaimana ya, ketika akhirnya saya dan teman-teman menjadi dewasa, lalu akhirnya menemukan pasangan hidupnya, mempunyai anak, yang nanti anak kami kenal satu sama lain saling akrab dan saling bermain, lalu kemudian kami menjadi tua dan akhirnya meninggal.


Tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita akan mati tua…


Hari ini, saya juga berfikir apa yang akan terjadi dihari depan?


Hari ini, saya juga berfikir apa ikatan ukhuwah yang indah ini akan tetap ada?


Di tulisan tidak berstruktur ini, saya hanya mengungkapkan apa yang ada di hati, masuk kepikiran, dan turun kembali ke jari-jari yang kemudian menuliskannya di laptop Acer, dan menjadi tulisan yang antum baca sekarang.


Sahabat, ingin rasanya semua tetap seperti ini, bersama kalian, sahabatku yang di cintai Allah. Akhir-akhir ini saya merasakan begitu indahnya ukhuwah di antara kita. Setelah beberapa waktu tidak berjumpa, dan akhirnya Alhamdulillah Allah masih mempertemukan kita. Terasa dopamine di otak ini mengalir deras, memunculkan sesamudra rasa senang dan nyaman. Bersama kalian, bersama sahabatku.


Semoga Allah mempertemukan kita di Surga. Menyatukan kita dengan anak dan istri kita. Bercengkrama dan bercanda bersama, di taman Surga indah Abadi. Seperti suatu saat nanti.


………………………………………………………………………………………………………………….

Ya Allah jagalah ikatan ukhuwah ini..