Category Archives: Pena Kehidupan

Satu kata… Renungan…

Bicara Gagal, Bicara Sukses

Bicara tentang kegagalan mungkin belum banyak dari kita yang pernah benar-benar merasakan “sebenar-benarnya” gagal, walaupun tidak ada yang namanya sebenar-benarnya kegagalan, kecuali kita meninggal dalam keadaan kafir. Namun seiring berputarnya gerigi kehidupan, sering kita merasakan terpental jatuh tersungkur, atau terkena hantaman pukulan dasyat yang membuat kita jatuh pingsan. Berapa kali? Satu, dua, sepuluh, dua puluh, atau bahkan sudah ratusan kali? Hmmm…sepertinya sudah tertebak, bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya adalah sudah berapa kali kita bangkit kembali setelah menerima hantaman kuat tersebut?

Ada sebuah kisah menarik. Alkisah, disuatu perusahaan ternama, terjadi suksesi kepemimpinan CEO, antara CEO senior digantikan oleh CEO yang lebih muda. Sang CEO muda ini tertarik dengan kesuksesan yang telah di capai oleh pendahulunya, dan bermaksud untuk menggali lebih dalam strategi yang dilakukan oleh seniornya tersebut.

“Pak Budi saya sungguh bangga pernah bekerja dalam satu kantor bersama bapak. Bapak telah berkontribusi sangat besar bagi kemajuan perusahaan ini, dan saya sungguh kagum dengan apa yang telah bapak lakukan. Jika bapak tidak keberatan, bisa kah bapak memberitahukan saya strategi apa yang bapak lakukan sehingga bisa mencapai pencapaian ini?” Tanya dari CEO muda.

Sang CEO senior yang bijaksana ini kemudian menjawab “Apa yang adik tanyakan dapat saya rangkum dalam dua kata, ‘good decisions’”.

Si CEO muda tadi masih penasaran “Lalu bagaimana cara saya agar saya bisa membuat ‘good decisions’ tersebut?”

CEO senior kemudian menjawab, “Jawabanya ada pada satu kata, ‘experience’

CEO muda masih penasaran, dan terus mengejar jawaban CEO senior tadi dan bertanya, “Bagaimana cara saya mendapatkan ‘experience’ yang bermanfaat bagi saya dan perusahaan ini?”

Dengan wajah yang lembut, sambil tersenyum simpul,  CEO senior kemudian berkata “Jawabannya adalah ‘bad decisions’”.

Ada pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari kisah di atas, jika kita bisa melihat sisi positif dari setiap kejadian, maka sesungguhnya kegagalan seringkali merupakan tebusan wajib yang harus kita bayar jika kita ingin meraih keberhasilan. Kegagalan dan kesuksesan ibarat saudara kembar, benar yang dikatakan Sochiro Honda,  “Sukses adalah 99% kegagalan”. Bisa jadi iya. Bisa jadi tidak. Atau bahkan mungkin lebih dari itu, bisa jadi sesungguhnya tidak ada kegagalan di dunia ini… Ya, tidak ada kegagalan di dunia ini. Yang ada adalah berhenti.

 

Iklan

Antologi Lintasan Hati

Aku tidak tahu apa yang kurasa…
Kehidupan terasa begitu kompleks…
Semua kejadian silih berganti… Aku merenung namun terasa hambar tanpa bekas…
Aku tersenyum, tertawa, bergerak, bersemangat, tapi waktu saat ini membuatnya terasa hampa..

Hatiku adalah hati yang sakit…
Pertarungan abadi terjadi disana…
Menjatuhkan pertumpahan darah ketakwaan dan kekufuran silih berganti…
Benteng hatiku rapuh, diriku sendiri ditengah hirup pikuknya dunia…
Aku sedang merenung…merenung, memahami untuk apa semua ini terjadi…
Aku sedang bertarung…bertarung menghadapi semua yang terjadi…dihatiku, dan dihati kawan-kawanku…
Ku sering kalah, ku sering menyesal, kusering berbuat salah, tak jelas apa yang kurasa…namun diantara itu ada suara lantang yang berteriak keras… “BODOH JIKA KAMU MENYERAH PADA KETERPURUKAN!!”
Lalu dengan lembut dia menepuk-nepuk pundak ku seraya berkata, “Wahai diri…belum saatnya kau berhenti…”

Lintasan dalam hati…
Entah apa yang dirasa…dia membuncah tak kenal arah…
hanya diriku yang mengerti…

Ku hanya ingin masuk surga…itu saja…
ku hanya ingin khusnul khotimah…itu saja…

Remuk hati ini memikirkan segalanya…
Entah apa yang kurasa, ku hanya ingin berusaha…

Ya Allah berkahilah kami…

09 Okt 2010, 23.28
home sweet home..

Menatap Lembayung di Langit Jogja

23.10,  Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman

Dulu, Sekarang, Masa Depan

Sebenarnya sudah dimulai ketika memulai santapan. Ketika menutup catatan kecil tentang Sm@rt, tangan mulai bergeriliya ke dalam saku untuk mengambil headset, dan melerai kabelnya yang sudah teruntel-untel. Pasang, lagu pertama adalah “Melodies of Life“, belum habis tergantikan oleh “Spirit Carries on“, belum juga habis tergantikan dengan “Lembayung Bali”. Lagu yang akhirnya membuat saya berpikir malam ini, dan belum tidur hingga saat ini (00.15)

“Lembayung Bali”… (senyum). Lagu itu terus berputar, bersamaan dengan datangnya senyum simpul dan perasaan yang tiba-tiba mendesir dalam hati dan pikiran… Sebuah kata pun terlintas… “Lembayung Jogja”.

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari, betapa berharga kenanganmu…
Di kala jiwaku tak terbatas,
bebas berandai memulang waktu

Hingga masih… bisa kuraih dirimu
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf,
masa yang telah kuingkari dan meninggalkanmu
Oooh cinta…

Teman yang terhanyut arus waktu…
mekar mendewasa…
MASIH KUSIMPAN SUARA TAWA KITA…
kembalilah sahabat lawasku,
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih… bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita MENANGIS BERSAMA
TEGAR MELAWAAN TEMPAAN… SEMANGATMU itu

Ooooh jingga…

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini

Ooooh mimpi…

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali…

Hatipun berdesir menghayati setiap kata dalam lagu ini. Semua sama, hanya berbeda pada kata Bali dengan Jogja. Lagu ini merewind kembali, beberapa ingatan dan lintasan pikiran, yang membawa saya kesini, seperti ini, dan merasakan hal ini. Segala Puji bagi Allah…

Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan disini. Karena rasa ini sangat complicated, dan memang rasanya lebih nyaman jika tetap pada tempatnya… Di dalam HATI.  Namun satu hal yang ingin saya katakan…

Ikhwahfillah,  Saya ingin suatu saat kita bisa reuni bersama dalam rahmat Nya. Saya ingin suatu saat saya bisa bercengkrama kembali dengan kalian, bercanda tawa, dan mengenang kembali semua yang saya rasakan saat ini… saya ingin berada di surga Nya bersama kalian… (wajah teduh, senyum simpul, dengan mata syahdu)

Ana ukhibbukum fillah ya akhi ukhti... (senyum)

*Teruntuk semua ikhwah filah, khususnya aktivis dakwah sekolah kota Jogja, fighters di Sm@rt Syuhada, saudara-saudara di KMAP, dan orang-orang spesial yang tidak bisa saya sebutkan disini…tiada kata yang bisa terucap selain…. Jazakumullah khoiron katsiron… Jazakumullah khoiron jazak… Terimakasih kawan, semoga Allah membalas kalian dengan balasan sebaik-baik balasan… (senyum)

*Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun nanti, saya kembali ke kota ini, menyanyikan lagu ini, teringat kalian, teringat masa-masa indah bersama kalian… “Masih kusimpan suara tawa kita…”

Bukit Bintang, Raker Smart 2010

Recommended for u : Lembayung Bali – Saras Dewi mp3

(02.03)

Secuil kisah dari dari sebuah tali pendek bernama kehidupan

Jum’at, 1 mei 2009

Tadi saya baru saja melihat sebuah film. Lebih tepatnya cuplikan film. Harusnya sih full tapi karena baru nonton sedikit udah harus pergi buat ke warnet, jadi ga bisa nonton lengkap. Begitu pulang, filmnya dah bagian akhir…

Sebenarnya waktu nulis ini kepala udah berat banged, ngantuk, plus agak pusing. Di iringi radio MQ, yang sebenarnya justru ngebuat ga konsen cz kalo lagi nulis ini emang baiknya dalam keadaan sunyi, tapi ya gpp, jalani aja…

Film itu, jujur sampai sekarang lagi nulis saya lupa dengan judulnya, yang pasti itu kisah nyata (akhir2 ini jadi suka nonton kisah nyata). Mau tanya kakak tapi males, mungkin besok pagi aja. Film ini berkisah tentang seorang pemuda kaya yang di kehidupannya dia jarang (atau mungkin ga pernah) di hargai oleh ayahnya, selalu dianggap remeh gitu deh… singkat cerita akhirnya dia pun kabur dari rumah dan menjual semua barang yang ia bawa lalu membakar uang hasil penjualannya. Jadi dia bener2 bertualang tanpa bekal, hanya beberapa bekal yang ia dapat dari orang yang ia temui di jalan. Yah mungkin mirip2 back packer gitu ya…

Nah di film ini dikisahkan bahwa dia berpetualang ke Alaska. Nama tempatnya saya lupa, tapi peraturan jika mau pergi kesana adalah berangkat sebelum musim dingin atau di awal musim dingin dan pulang sebelum musin semi. Cz kalo dah musim semi, sungai yang tadinya kecil dan mudah dilewati menjadi sangat besar dan deras, dan tidak mungkin untuk dilewati.

Cerita punya cerita, akhirnya ia pun melakukan kesalahan bodoh itu. Dia berangkat dengan semacam bus sekolah orang2 sana, dengan waktu yang melewati batas yang telah disebutkan di atas. Dan akhirnya dia pun terjebak dan kehabisan bekal. Dengan habis nya bekal ia pun mulai cari tanaman yang bisa dimakan, tapi sialnya lagi dia justru salah mengambil tanaman. Niatnya mau ngambil yang bisa dimakan, malah ngambil yang beracun. Alhasil diapun keracunan, melemah dan membuat keadaan ketika itu semakin parah. Dan akhirnya  dia pun akhirnya meninggal karena keracunan plus kelaparan. Sad ending sekaligus membuat berpikir… (berpikir?)

Dua minggu setelah itu seorang pemburu rusa akhirnya menemukan mini busnya dan diary yang dia tulis selama perjalannya. Dari sinilah film itu di buat…

Melihat film ini, hal pertama yang saya pikirkan, “Kasihan sekali pemuda itu… hidupnya sia-sia… bagaimana di akhiratnya ya?”. Film itu menggambarkan perasaan seorang pemuda, yang haus akan perhatian, ingin bebas, merasa paling benar, dll. Yang dalam fil ini, atas dasar itulah akhirnya ia pun kabur dari rumah nya dan melakukan petualangan, semacam journey untuk mencari jati diri.

Namun akhirnya jalan hidup memberikan dia akhir yang menyedihkan yaitu “penyesalan”. Di akhir hayat nya dikisahkan bahwa dia mengingat ayahnya, ibunya, keluarganya, teman2nya, orang2 yang ia temui di perjalanan dan orang-orang yang menolongnya. Saya menangkap dari siratan sikap dan matanya, dia nampak bersedih… bersedih karena dia tidak bisa membahagiakan mereka, bersedih karena dia telah mengecewakan mereka, bersedih karena dia harus mati dengan kondisi yang begitu menyedihkan, bersedih bersama pergolakan jiwa yang begitu kompleks. Saya bisa merasakannya tapi mungkin tidak cukup baik untuk mengungkapkanya disini.

Namun ada sebuah hal yang saya dapat dari film tersebut…Jadi sebelum orang ini meninggal karena kelaparan dan keracunan tadi, dia sempat untuk menuliskan kata-kata terakhirnya.

“Happiness only real when shared”

Kebahagiaan hanyalah nyata ketika diberikan kepada sesama…

……………………………

Beware with ur wish

25 Rabiul Akhir 1430 H


Cerita nyata nih. Udah lama sih, tapi keliatannya masih pas untuk diceritain. Berhubung akhir-akhir ini banyak yang kehilangan. Untung yang kehilangan yang sabar ya, semoga antum mendaat hikmah dari kehilangan yang terjadi, dan semoga barang yang hilang diganti dengan yang lebih baik lagi, amin. Dan ya Allah, sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Engkau, dan akan kembali pada Engkau, berikanlah kami kesabaran atas segala hal yang telah Engkau tetapkan.


Kisah ini terjadi waktu saya masih les di LIA kira-kira waktu masih level HI-3. Disana kami sedang masuk ke bab tentang mimpi dan impian. Untuk itu teacher kami ketika itu, meminta agar seluruh siswa menyebutkan apa yang dia inginkan dan nanti teman-teman yang lainnya diminta untuk mengamini. Ketika itu impian kami bermacam-macam, ada yang minta biar lulus pendadaran, lulus UM, UAN, ada yang ingin jadi orang sukses (saya agak lupa spesifiknya),pokoknya macam-macam deh. Tapi ada yang menarik, salah satu dari teman kami ketika meminta agar ia bisa punya HP baru, dan ketika itu kami semua pun mengamini apa yang ia inginkan.


Lalu apa yang terjadi?


Ketika kami les hari Selasa, dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya? Pada hari Kamisnya, atau di next meeting dari kisah di atas, teman kami yang meminta HP baru tadi ternyata dikabulkan doanya. Mau tahu seperti apa? Ya, di hari itu tiba-tiba dia laporan kalau ternyata HP nya itu HILANG, ya hilang… Tahu kan maksudnya?


Ketika kami sekelas pun hanya terbengong-bengong, setengah tidak percaya, dan kembali mengingat kejadian di meeting sebelumnya. Dan teacher kami mengatakan, “whoho, spooky… watch out with ur wish”.


Tidak ada yang kebetulan, setidaknya itulah yang harus kita yakini ketika kita mengalami kejadian semacam ini. Ya, tidak ada kebetulan. Semua yang terjadi pasti telah terencana, dan rencana tersebut telah tersusun dengan sangat rapih, oleh Sang Pembuat Rencana. Setiap kejadian yang telah direncanakan-Nya, telah dibuat sepaket dengan sejuta hikmah dan makna, yang jika kita berhasil menemukan maka terasa kecilah rasa kehilangan tersebut.


Rasa ga enak, ga relo, nggelo, mungkin selalu muncul dalam dada. Tapi demi Allah, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Karena jika hanya sebatas rasa maka yang muncul bukanlah solusi tapi justru, kedongkolan, kemarahan ga jelas, dan rasa yang tidak enak terus menerus. So, gimana solusinya? Ya, kita harus tetap berikhtiar untuk kemudian mencari barang yang hilang tadi, bukan berarti ketika kita kehilangan sesuatu lalu kita pasrah saja tanpa berbuat apa-apa. Kita harus tetap berikhtiar, ya kita harus berikhtiar. Tapi ikhtiar tersebut tidak hanya berhenti untuk menemukan barang yang hilang saja, tetapi juga untuk mencari makna yang tersembunyi di dalamnya.


Rasa itu pasti akan tetap muncul, apalagi jika barang tersebut bukan milik kita pribadi. Tapi milik saudara kita, sahabat kita, atau orang yang terdekat dengan kita. Tapi mau bagaimana lagi? Hal tersebut telah terjadi dan tidak dapat diulang untuk diperbaiki. Yah, yang kami sampaikan disini merupakan bentuk ideal dari solusi hal tersebut. Sebagai manusia kami tetap memiliki rasa seperti yang temen-temen rasakan ketika mengalami hal tersebut. Mungkin justru kami lebih panic, lebih kacau, lebih pontang-panting dari temen-temen yang baca atau yang pernah mengalami hal tersebut.


Untuk itu, nasehat ini diharapkan dapat menenangkan hati yang bingung, hati yang resah, hati yang gelisah. Dimana dasarnya sebagai manusia, agar tidak menjadi manusia yang merugi, kita wajib saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling mengingatkan dalam kesabaran.


Buat saudara-saudaraku yang baru saja kehilangan, yang sabar ya… yakinlah bahwa kehilangan benda sesungguhnya tidak ada apa-apa nya dibandingkan dengan kehilangan iman. Sabar, sabar, sabar… siapkan diri tuk hadapi konsekuensi, kuatkan ikhtiar tuk memperbaiki, pertebal iman tuk melewati apa yang terjadi, semoga Allah meridhoi…


Makna itu ada didalamnya, InsyaAllah…

Ibu, Ceritakan ku tentang ikhwan sejati

Didapat dari seorang teman.

Written by : Indrianti

Seorang remaja pria bertanya pada ibunya: Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati…

Sang Ibu tersenyum dan menjawab… Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya….

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran…..

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa …

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah… ?

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya…

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan…

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca…

….setelah itu, ia kembali bertanya…

” Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?”

Sang Ibu memberinya buku dan berkata…. “Pelajari tenteng dia…” ia pun mengambil buku itu

“MUHAMMAD”, judul buku yang tertulis di buku itu

Disuatu Malam Yang Melankolis

Di suatu malam…


Apalah arti sebuah judul, kenapa jadi focus memikirkan judul??


Malam ini saya mendapatkan sebuah ilmu berharga. Ilmu yang mengingatkan saya kepada kata-kata seorang tokoh besar yang terlupakan. Setidaknya terlupakan oleh ingatan saya…


“Akan banyak hal besar yang dapat dilakukan, seandainya semua orang tidak peduli siapa yang mendapatkan nama”


Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan akan mendapat apa saya nanti dengan saya melakukan ini? [ Wah keren, saya akan dipandang hebat oleh teman-teman saya, saya akan dapet muka nih, dihadapan mas-mas dan mba-mba. Wah saya akan dilihat keren nih oleh para ikhwan atau akhwat. Dan lain sebagainya…]


Ikhwah tidak maksud apa-apa. Ini hanya sebuah renungan. Jujur setiap orang tidak akan ada yang sempurna, termasuk juga yang menulis. Jujur, jauh di dalam diri yang penuh kekotoran ini juga pernah terbesit perasaan seperti itu. [Pernah atau sering? Astagfirullah…]


Ikhwah, mari kita selalu luruskan niat kita. [Wahai lumpur kotor yang hina, sadarkanlah dirimu, tendang bila perlu, agar tersadar dan terbangun dari angan-angan semu mu!]


Malam ini saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dari sebuah film. Terkadang pahlawan bukanlah seorang pahlawan, dan penjahat bukanlah seorang penjahat. Karena orang yang mulia akan tetap mulia walaupun dipandang hina oleh seluruh orang di dunia, dan orang yang hina akan tetap hina walaupun dipuja-puja dan dimuliakan oleh seluruh orang di dunia.


Hanya Allah yang tahu, wallahu’alam bishawab…


Tanda ( [ ] ) adalah ucapan terhadap diri penulis sendiri, jangan terlalu dimasukan ke hati temen-temen