Monthly Archives: Oktober 2010

Antologi Lintasan Hati

Aku tidak tahu apa yang kurasa…
Kehidupan terasa begitu kompleks…
Semua kejadian silih berganti… Aku merenung namun terasa hambar tanpa bekas…
Aku tersenyum, tertawa, bergerak, bersemangat, tapi waktu saat ini membuatnya terasa hampa..

Hatiku adalah hati yang sakit…
Pertarungan abadi terjadi disana…
Menjatuhkan pertumpahan darah ketakwaan dan kekufuran silih berganti…
Benteng hatiku rapuh, diriku sendiri ditengah hirup pikuknya dunia…
Aku sedang merenung…merenung, memahami untuk apa semua ini terjadi…
Aku sedang bertarung…bertarung menghadapi semua yang terjadi…dihatiku, dan dihati kawan-kawanku…
Ku sering kalah, ku sering menyesal, kusering berbuat salah, tak jelas apa yang kurasa…namun diantara itu ada suara lantang yang berteriak keras… “BODOH JIKA KAMU MENYERAH PADA KETERPURUKAN!!”
Lalu dengan lembut dia menepuk-nepuk pundak ku seraya berkata, “Wahai diri…belum saatnya kau berhenti…”

Lintasan dalam hati…
Entah apa yang dirasa…dia membuncah tak kenal arah…
hanya diriku yang mengerti…

Ku hanya ingin masuk surga…itu saja…
ku hanya ingin khusnul khotimah…itu saja…

Remuk hati ini memikirkan segalanya…
Entah apa yang kurasa, ku hanya ingin berusaha…

Ya Allah berkahilah kami…

09 Okt 2010, 23.28
home sweet home..

Pemuda adalah…

Rapat, bagai satu bangunan yang kokoh

Pemuda adalah Ibrahim
Yang dengan kampaknya menebas leher paganisme
Yang dengan kekuatan argumentasinya menghancurkan
keseimbangan sang tiran
Yang dengan kecerdasannya menemukan hakikat
kebenaran dibalik rahasia alam semesta
Yang dengan keberaniannya menundukkan panasnya bara api
Yang dengan keteguhan imannya mengarungi sahara yang tidak bertuan
Yang kecintaan pada rabb-nya mengalahkan segala sesuatu
Merelakan semua kemahalan pengorbanan

Pemuda adalah musa
Yang dengan tongkatnya meluluhlantakkan keangkuhan kebodohan
Yang dengan keberanian dan keimanannya membelah lautan merah
Yang dengan kekuatannya membunuh sang angkara
Yang dengan ketegasannya menciptakan sistim kepemimpinan
di tengah kaum yang terpecah belah

Pemuda adalah Isa
Yang dengan ketulusan kasih sayangnya mencairkan kebekuan hati
Yang dengan kelembutannya menumbuhkan kehidupan
Yang pengorbanan tanpa pamrihnya menyinari
kegelapan paradigma materialis
Yang kejernihan hatinya menguak segala rahasia kejahatan

Pemuda adalah Muhammad
Yang didirinya terhimpun segala potensi kebaikan
Yang kekuatan perjuangannya menghancurkan peradaban rendah
untuk kemudian
membangun ketinggian hakikat peradaban kemanusiaan
Yang kecintaan pada rabb-nya membuatnya tak peduli
apapun yang menimpanya
Yang ketinggian akhlaknya membuat hormat dan pujian dari seluruh alam
Yang kecintaan pada ummatnya membuatnya tak tenang istirahat
Yang kezuhudannya telah mengharamkan diri dan keluarganya
Dari obsesi gemilang materi
Yang ketinggian namanya selalu disebut sampai hari kiamat

Pemuda,
Dipundakmu lah tertumpu berjuta harapan
Di dirimu lah terkumpul potensi keutamaan
Di tanganmu lah terlatak penyelesaian permasalahan ummat
Di matamu sinar kan menguak kegelapan
Di perjuanganmu tergantung bangunan ketinggian
Peradaban kemanusia

Pemuda,
Raihlah ketinggian
Gapailah kemuliaan
Temukan hakikat kebahagian
Tegarkan dirimu menghadai badai
Tinggalkan semua kepalsuan dan kesemuan
Menembus batas birunya langit
Karena disanalah akan engkau temui
Rabb-mu yang maha tinggi

Pemuda Islam adalah Pemuda Harapan

copas from somewhere… (baca : lupa)

Menatap Lembayung di Langit Jogja

23.10,  Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman

Dulu, Sekarang, Masa Depan

Sebenarnya sudah dimulai ketika memulai santapan. Ketika menutup catatan kecil tentang Sm@rt, tangan mulai bergeriliya ke dalam saku untuk mengambil headset, dan melerai kabelnya yang sudah teruntel-untel. Pasang, lagu pertama adalah “Melodies of Life“, belum habis tergantikan oleh “Spirit Carries on“, belum juga habis tergantikan dengan “Lembayung Bali”. Lagu yang akhirnya membuat saya berpikir malam ini, dan belum tidur hingga saat ini (00.15)

“Lembayung Bali”… (senyum). Lagu itu terus berputar, bersamaan dengan datangnya senyum simpul dan perasaan yang tiba-tiba mendesir dalam hati dan pikiran… Sebuah kata pun terlintas… “Lembayung Jogja”.

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari, betapa berharga kenanganmu…
Di kala jiwaku tak terbatas,
bebas berandai memulang waktu

Hingga masih… bisa kuraih dirimu
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf,
masa yang telah kuingkari dan meninggalkanmu
Oooh cinta…

Teman yang terhanyut arus waktu…
mekar mendewasa…
MASIH KUSIMPAN SUARA TAWA KITA…
kembalilah sahabat lawasku,
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih… bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita MENANGIS BERSAMA
TEGAR MELAWAAN TEMPAAN… SEMANGATMU itu

Ooooh jingga…

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini

Ooooh mimpi…

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali…

Hatipun berdesir menghayati setiap kata dalam lagu ini. Semua sama, hanya berbeda pada kata Bali dengan Jogja. Lagu ini merewind kembali, beberapa ingatan dan lintasan pikiran, yang membawa saya kesini, seperti ini, dan merasakan hal ini. Segala Puji bagi Allah…

Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan disini. Karena rasa ini sangat complicated, dan memang rasanya lebih nyaman jika tetap pada tempatnya… Di dalam HATI.  Namun satu hal yang ingin saya katakan…

Ikhwahfillah,  Saya ingin suatu saat kita bisa reuni bersama dalam rahmat Nya. Saya ingin suatu saat saya bisa bercengkrama kembali dengan kalian, bercanda tawa, dan mengenang kembali semua yang saya rasakan saat ini… saya ingin berada di surga Nya bersama kalian… (wajah teduh, senyum simpul, dengan mata syahdu)

Ana ukhibbukum fillah ya akhi ukhti... (senyum)

*Teruntuk semua ikhwah filah, khususnya aktivis dakwah sekolah kota Jogja, fighters di Sm@rt Syuhada, saudara-saudara di KMAP, dan orang-orang spesial yang tidak bisa saya sebutkan disini…tiada kata yang bisa terucap selain…. Jazakumullah khoiron katsiron… Jazakumullah khoiron jazak… Terimakasih kawan, semoga Allah membalas kalian dengan balasan sebaik-baik balasan… (senyum)

*Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun nanti, saya kembali ke kota ini, menyanyikan lagu ini, teringat kalian, teringat masa-masa indah bersama kalian… “Masih kusimpan suara tawa kita…”

Bukit Bintang, Raker Smart 2010

Recommended for u : Lembayung Bali – Saras Dewi mp3

(02.03)