Monthly Archives: Mei 2009

Secuil kisah dari dari sebuah tali pendek bernama kehidupan

Jum’at, 1 mei 2009

Tadi saya baru saja melihat sebuah film. Lebih tepatnya cuplikan film. Harusnya sih full tapi karena baru nonton sedikit udah harus pergi buat ke warnet, jadi ga bisa nonton lengkap. Begitu pulang, filmnya dah bagian akhir…

Sebenarnya waktu nulis ini kepala udah berat banged, ngantuk, plus agak pusing. Di iringi radio MQ, yang sebenarnya justru ngebuat ga konsen cz kalo lagi nulis ini emang baiknya dalam keadaan sunyi, tapi ya gpp, jalani aja…

Film itu, jujur sampai sekarang lagi nulis saya lupa dengan judulnya, yang pasti itu kisah nyata (akhir2 ini jadi suka nonton kisah nyata). Mau tanya kakak tapi males, mungkin besok pagi aja. Film ini berkisah tentang seorang pemuda kaya yang di kehidupannya dia jarang (atau mungkin ga pernah) di hargai oleh ayahnya, selalu dianggap remeh gitu deh… singkat cerita akhirnya dia pun kabur dari rumah dan menjual semua barang yang ia bawa lalu membakar uang hasil penjualannya. Jadi dia bener2 bertualang tanpa bekal, hanya beberapa bekal yang ia dapat dari orang yang ia temui di jalan. Yah mungkin mirip2 back packer gitu ya…

Nah di film ini dikisahkan bahwa dia berpetualang ke Alaska. Nama tempatnya saya lupa, tapi peraturan jika mau pergi kesana adalah berangkat sebelum musim dingin atau di awal musim dingin dan pulang sebelum musin semi. Cz kalo dah musim semi, sungai yang tadinya kecil dan mudah dilewati menjadi sangat besar dan deras, dan tidak mungkin untuk dilewati.

Cerita punya cerita, akhirnya ia pun melakukan kesalahan bodoh itu. Dia berangkat dengan semacam bus sekolah orang2 sana, dengan waktu yang melewati batas yang telah disebutkan di atas. Dan akhirnya dia pun terjebak dan kehabisan bekal. Dengan habis nya bekal ia pun mulai cari tanaman yang bisa dimakan, tapi sialnya lagi dia justru salah mengambil tanaman. Niatnya mau ngambil yang bisa dimakan, malah ngambil yang beracun. Alhasil diapun keracunan, melemah dan membuat keadaan ketika itu semakin parah. Dan akhirnya  dia pun akhirnya meninggal karena keracunan plus kelaparan. Sad ending sekaligus membuat berpikir… (berpikir?)

Dua minggu setelah itu seorang pemburu rusa akhirnya menemukan mini busnya dan diary yang dia tulis selama perjalannya. Dari sinilah film itu di buat…

Melihat film ini, hal pertama yang saya pikirkan, “Kasihan sekali pemuda itu… hidupnya sia-sia… bagaimana di akhiratnya ya?”. Film itu menggambarkan perasaan seorang pemuda, yang haus akan perhatian, ingin bebas, merasa paling benar, dll. Yang dalam fil ini, atas dasar itulah akhirnya ia pun kabur dari rumah nya dan melakukan petualangan, semacam journey untuk mencari jati diri.

Namun akhirnya jalan hidup memberikan dia akhir yang menyedihkan yaitu “penyesalan”. Di akhir hayat nya dikisahkan bahwa dia mengingat ayahnya, ibunya, keluarganya, teman2nya, orang2 yang ia temui di perjalanan dan orang-orang yang menolongnya. Saya menangkap dari siratan sikap dan matanya, dia nampak bersedih… bersedih karena dia tidak bisa membahagiakan mereka, bersedih karena dia telah mengecewakan mereka, bersedih karena dia harus mati dengan kondisi yang begitu menyedihkan, bersedih bersama pergolakan jiwa yang begitu kompleks. Saya bisa merasakannya tapi mungkin tidak cukup baik untuk mengungkapkanya disini.

Namun ada sebuah hal yang saya dapat dari film tersebut…Jadi sebelum orang ini meninggal karena kelaparan dan keracunan tadi, dia sempat untuk menuliskan kata-kata terakhirnya.

“Happiness only real when shared”

Kebahagiaan hanyalah nyata ketika diberikan kepada sesama…

……………………………