Monthly Archives: Januari 2009

WE WILL NOT GO DOWN (Lyric)

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
michealheart. com

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Disuatu Malam Yang Melankolis

Di suatu malam…


Apalah arti sebuah judul, kenapa jadi focus memikirkan judul??


Malam ini saya mendapatkan sebuah ilmu berharga. Ilmu yang mengingatkan saya kepada kata-kata seorang tokoh besar yang terlupakan. Setidaknya terlupakan oleh ingatan saya…


“Akan banyak hal besar yang dapat dilakukan, seandainya semua orang tidak peduli siapa yang mendapatkan nama”


Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan akan mendapat apa saya nanti dengan saya melakukan ini? [ Wah keren, saya akan dipandang hebat oleh teman-teman saya, saya akan dapet muka nih, dihadapan mas-mas dan mba-mba. Wah saya akan dilihat keren nih oleh para ikhwan atau akhwat. Dan lain sebagainya…]


Ikhwah tidak maksud apa-apa. Ini hanya sebuah renungan. Jujur setiap orang tidak akan ada yang sempurna, termasuk juga yang menulis. Jujur, jauh di dalam diri yang penuh kekotoran ini juga pernah terbesit perasaan seperti itu. [Pernah atau sering? Astagfirullah…]


Ikhwah, mari kita selalu luruskan niat kita. [Wahai lumpur kotor yang hina, sadarkanlah dirimu, tendang bila perlu, agar tersadar dan terbangun dari angan-angan semu mu!]


Malam ini saya mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dari sebuah film. Terkadang pahlawan bukanlah seorang pahlawan, dan penjahat bukanlah seorang penjahat. Karena orang yang mulia akan tetap mulia walaupun dipandang hina oleh seluruh orang di dunia, dan orang yang hina akan tetap hina walaupun dipuja-puja dan dimuliakan oleh seluruh orang di dunia.


Hanya Allah yang tahu, wallahu’alam bishawab…


Tanda ( [ ] ) adalah ucapan terhadap diri penulis sendiri, jangan terlalu dimasukan ke hati temen-temen

Tulisan Jadul : CHIO

Sabtu, 6 Desember 2008

Lagi-lagi terbesit pikiran untuk nulis, disaat banyak tugas, laporan praktikum menumpuk, persiapan presentasi tumpah ruah, dan persiapan tugas-tugas jangka panjang menanti. Aneh ya, kenapa selalu muncul disat seperti ini. Mana perut laper banget lagi, abis kena angin, jadi ngerasa enter wind (masuk angin maksudnya, hehe. Afwan yog, tak pinjem istilahnya antum, he).

Ok, ok, tapi mau nulis apa ya??? Sebenarnya masih bingung. Ini yang tak tulis juga cuma yang terbesit di hati. Hmm… oh iya, baru-baru ini saya baru aj baca sebuah buku sederhana buatan anak FLP Jogja yang gunain nama CHIO. Ga tau itu nama asli pa nama pena. Judulnya “Jangan Sadarin Cewek”. Sebuah buku yang menurutku kasar dari segi bahasa, dan dalem menancap disetiap yang baca, terutama para cewek. Pasti majleb-jleb-jleb, remuk, berdarah, dan pecah, hihihi kasihan. Tapi mungkin itu kenyataan…

Bukunya antitesa. Dia menyampaikan suatu maksud yang menurut saya mungkin ungkapan isi hati ikhwan-ikhwan hanif dengan pola pikir dan kata-kata cowok-cowok (maaf) brengsek. Afwan sebelumnya saya tidak ada maksud untuk mengklasifikasikan antara ikhwan dan cowok, kalimat sebelumnya hanya berupa penggambaran.

Walaupun ada beberapa topic yang terkesan “ketok rata” tapi overall cukup menggugah. Ya mungkin point-point yang “ketok rata” itu yang membuat saya berfikir kritis dalam melihat buku ini, dan menimbulkan sedikit rasa tidak setuju, di beberapa kata dan point. Tapi sekali lagi, overall ni buku menohok sekali (he, ga ding, hipos. Kalo buat sewek waras mungkin iya…). Tapi jujur, buku ini sempat membuat saya berkali-kali berucap istigfar. Masya Allah inikah fondasi pembangunan masa depan suatu negri, dimana wanita, ibu, dan umahat menjadi pusat pembelajaran pertama yang membangun sikap dan mental agent of change, para pemuda. Ya, keadaan sosok hawa di sebuah negri bernama Indonesia. Masya Allah, na’udzubillah min dzalik…

Yah… sepakat deh dengan CHIO, surga tu ditelapak kaki ibu, bukan di telapak kaki cewek. Apa bedanya!? Baca aja bukunya ndiri, biar lebih jelas. Tapi yang pasti, semoga ini hanya akan menjadi mimpi buruk yang akan tersadar ke dunia kenyataan yang penuh kebaikan. Everyone can change bro… at least, i hope so.