Monthly Archives: Desember 2008

Dimanakah kita???

Tulisan Juuuuuaaaduuulll buanged ni… dah lama tulis, tapi baru bisa posting sekarang. Semoga bisa bermanfaat ya teman2….

———————————————————————————————————-

Dimanakah Kita?


Baru-baru ini seorang teman bercerita tentang keadaan dirinya yang sering ditekan keluarganya untuk melepaskan keIslamanya. Karena konon keluarganya adalah keluarga yang homogen dalam beragama. Bahkan antara ayah dan ibunya sendiri pun berbeda. Dan, dari sanalah konflik itu bermula. Ketika sang anak akhirnya menyadari bahwa dia sedang ditekan untuk keluar dari agama sempurna ini. Tapi Alhamdulillah hal tersebut belum berhasil, dan InsyaAllah dengan izin Allah dan bantuan dari kita semua hal itu tidak akan berhasil.


Cerita seperti di atas tidak hanya terjadi satu-dua orang di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, di Negara yang mayoritas Islam ini ternyata hanya seorang “muslim” merupakan kaum minoritas. Bisa kita lihat dimana-mana dimana seorang bernama Muhammad, Abdurrahman, Aisyah, dan seterusnya muncul diberita-berita, dengan kasus-kasus yang sangat menyedihkan. Pembunuhan, pemerkosaan, PSK, dan lain sebagainya. Belum lagi, diperparah dengan lemahnya kekuatan aqidah umat ini. Banyak umat Islam yang dengan mudahnya merelakan ke Islamannya, hanya demi sekardus mie instan, ongkos, kuliah, biaya rumah sakit, dan lain sebagainya. Hal ini bukan dimaksudkan untuk megeneralisir dari keadaan umat di Negara tercinta kita ini, namun hal ini bisa menjadi bahan perenungan kita sebagai seorang muslim, tentang keadaan umat kita saat ini. Seperti yang kita tau, sebagai umat Islam kitalah orang bertanggung jawab atas keadaan umat ini.


Dapat kita lihat, banyak orang yang mengaku Islam, tapi sayangnya hanya terbukti sebatas dengan sebuah kartu bernama KTP. Atau mungkin bahasa umumnya bisa dibilang Islam KTP. Kalau begitu yang masuk surga mending KTP nya aja ya. Cz yang Islam KTP nya bukan orangnya.


Dilain waktu pula, masjid rumah saya pernah kedatangan sekelompok jama’ah. Ja’maah ini memberikan khotbah singkat setiap habis salat Isya. Disalah satu khotbah disebutkan, bahwa yang lebih menyayat hati lagi, keadaan seperti ini tidak hanya terjadi di sini, dinegara ini. Tetapi di hampir seluruh Negara Islam. Bahkan di Mekkah Al-mukaramah (masyaAllah). Disana, diceritakan, bahwa di daerah yang hanya 400 meter dari baitullah (the holliest place on earth), masih sering terjadi pencurian (na’udzubillah).


Miris ya jika melihat keadaan umat yang seperti ini. Hal di atas hanyalah merupakan sebutir pasir masalah dari banyaknya masalah kita yang seperti pantai parang tritis (alias pasirnya buuaanyak banget). Tapi diantara pasir-pasir masalah tersebut, ternyata masih banyak orang-orang yang bertindak sebagai ombak, yang menyapu dan mengerosikan permasalahan umat. Mereka bagaikan secercah harapan bagi ditengah kegelapan umat ini. Sekarang masalahnya kembali kepada diri kita. Dimanakah kita? Apakah kita bersama mereka, atau hanya sebagai pihak yang medukung tapi hanya duduk berpangku tangan? Atau justru kitalah umat yang menentang mereka?


Sahabat, zaman ini telah membenarkan perkataan Rasulullah, tentang zaman dimana umat muslim menggenggam Islam seperti menggenggam bara api. Dan zaman itulah yang sedang kita jalani ini. Dan masalahnya dimanakah kita?

Dikala Sendiri Di Hari Senin

Udah lama g buka blog, sampe lupa id dan paswordnya…

Yaah mumpung sempet dan inget, sebenernya walaupun udah lama g posting di blog, an tetep nulis lho. Nah sekarang an mau publish salah satu di antara nya. He, cuma iseng aj. Sebenarnya ini tulisan lama, tapi br sempet di post sekarang. Makannya an kasihin tanggal…

………………………………………………………………………………………………………………….

Senin, 22 September 2008


Ditengah kesendirian dirumah,


Harusnya saat ini saya ngerjain laporan atau beres-beres untuk segera berangkat kuliah, tapi kenapa rasanya ingin nulis ya? Entahlah, ga tau. Tulisan kali ini hanya ingin mengungkapkan perasaan yang sedang berseliweran dihati. Yang ingin rasanya diekspresikan, tapi entah dengan apa dan bagaimana.


Hari ini saya kembali berfikir, ternyata hidup itu hanya sekumpulah detik yang tersusun menjadi menit, kemudian menjadi jam, hari, dan seterusnya. Semua terasa begitu singkat. Saya berfikir, nanti bagaimana ya, ketika akhirnya saya dan teman-teman menjadi dewasa, lalu akhirnya menemukan pasangan hidupnya, mempunyai anak, yang nanti anak kami kenal satu sama lain saling akrab dan saling bermain, lalu kemudian kami menjadi tua dan akhirnya meninggal.


Tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita akan mati tua…


Hari ini, saya juga berfikir apa yang akan terjadi dihari depan?


Hari ini, saya juga berfikir apa ikatan ukhuwah yang indah ini akan tetap ada?


Di tulisan tidak berstruktur ini, saya hanya mengungkapkan apa yang ada di hati, masuk kepikiran, dan turun kembali ke jari-jari yang kemudian menuliskannya di laptop Acer, dan menjadi tulisan yang antum baca sekarang.


Sahabat, ingin rasanya semua tetap seperti ini, bersama kalian, sahabatku yang di cintai Allah. Akhir-akhir ini saya merasakan begitu indahnya ukhuwah di antara kita. Setelah beberapa waktu tidak berjumpa, dan akhirnya Alhamdulillah Allah masih mempertemukan kita. Terasa dopamine di otak ini mengalir deras, memunculkan sesamudra rasa senang dan nyaman. Bersama kalian, bersama sahabatku.


Semoga Allah mempertemukan kita di Surga. Menyatukan kita dengan anak dan istri kita. Bercengkrama dan bercanda bersama, di taman Surga indah Abadi. Seperti suatu saat nanti.


………………………………………………………………………………………………………………….

Ya Allah jagalah ikatan ukhuwah ini..