Bicara Gagal, Bicara Sukses

Bicara tentang kegagalan mungkin belum banyak dari kita yang pernah benar-benar merasakan “sebenar-benarnya” gagal, walaupun tidak ada yang namanya sebenar-benarnya kegagalan, kecuali kita meninggal dalam keadaan kafir. Namun seiring berputarnya gerigi kehidupan, sering kita merasakan terpental jatuh tersungkur, atau terkena hantaman pukulan dasyat yang membuat kita jatuh pingsan. Berapa kali? Satu, dua, sepuluh, dua puluh, atau bahkan sudah ratusan kali? Hmmm…sepertinya sudah tertebak, bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya adalah sudah berapa kali kita bangkit kembali setelah menerima hantaman kuat tersebut?

Ada sebuah kisah menarik. Alkisah, disuatu perusahaan ternama, terjadi suksesi kepemimpinan CEO, antara CEO senior digantikan oleh CEO yang lebih muda. Sang CEO muda ini tertarik dengan kesuksesan yang telah di capai oleh pendahulunya, dan bermaksud untuk menggali lebih dalam strategi yang dilakukan oleh seniornya tersebut.

“Pak Budi saya sungguh bangga pernah bekerja dalam satu kantor bersama bapak. Bapak telah berkontribusi sangat besar bagi kemajuan perusahaan ini, dan saya sungguh kagum dengan apa yang telah bapak lakukan. Jika bapak tidak keberatan, bisa kah bapak memberitahukan saya strategi apa yang bapak lakukan sehingga bisa mencapai pencapaian ini?” Tanya dari CEO muda.

Sang CEO senior yang bijaksana ini kemudian menjawab “Apa yang adik tanyakan dapat saya rangkum dalam dua kata, ‘good decisions’”.

Si CEO muda tadi masih penasaran “Lalu bagaimana cara saya agar saya bisa membuat ‘good decisions’ tersebut?”

CEO senior kemudian menjawab, “Jawabanya ada pada satu kata, ‘experience’

CEO muda masih penasaran, dan terus mengejar jawaban CEO senior tadi dan bertanya, “Bagaimana cara saya mendapatkan ‘experience’ yang bermanfaat bagi saya dan perusahaan ini?”

Dengan wajah yang lembut, sambil tersenyum simpul,  CEO senior kemudian berkata “Jawabannya adalah ‘bad decisions’”.

Ada pelajaran menarik yang dapat kita ambil dari kisah di atas, jika kita bisa melihat sisi positif dari setiap kejadian, maka sesungguhnya kegagalan seringkali merupakan tebusan wajib yang harus kita bayar jika kita ingin meraih keberhasilan. Kegagalan dan kesuksesan ibarat saudara kembar, benar yang dikatakan Sochiro Honda,  “Sukses adalah 99% kegagalan”. Bisa jadi iya. Bisa jadi tidak. Atau bahkan mungkin lebih dari itu, bisa jadi sesungguhnya tidak ada kegagalan di dunia ini… Ya, tidak ada kegagalan di dunia ini. Yang ada adalah berhenti.

 

Iklan

Antologi Lintasan Hati

Aku tidak tahu apa yang kurasa…
Kehidupan terasa begitu kompleks…
Semua kejadian silih berganti… Aku merenung namun terasa hambar tanpa bekas…
Aku tersenyum, tertawa, bergerak, bersemangat, tapi waktu saat ini membuatnya terasa hampa..

Hatiku adalah hati yang sakit…
Pertarungan abadi terjadi disana…
Menjatuhkan pertumpahan darah ketakwaan dan kekufuran silih berganti…
Benteng hatiku rapuh, diriku sendiri ditengah hirup pikuknya dunia…
Aku sedang merenung…merenung, memahami untuk apa semua ini terjadi…
Aku sedang bertarung…bertarung menghadapi semua yang terjadi…dihatiku, dan dihati kawan-kawanku…
Ku sering kalah, ku sering menyesal, kusering berbuat salah, tak jelas apa yang kurasa…namun diantara itu ada suara lantang yang berteriak keras… “BODOH JIKA KAMU MENYERAH PADA KETERPURUKAN!!”
Lalu dengan lembut dia menepuk-nepuk pundak ku seraya berkata, “Wahai diri…belum saatnya kau berhenti…”

Lintasan dalam hati…
Entah apa yang dirasa…dia membuncah tak kenal arah…
hanya diriku yang mengerti…

Ku hanya ingin masuk surga…itu saja…
ku hanya ingin khusnul khotimah…itu saja…

Remuk hati ini memikirkan segalanya…
Entah apa yang kurasa, ku hanya ingin berusaha…

Ya Allah berkahilah kami…

09 Okt 2010, 23.28
home sweet home..

Pemuda adalah…

Rapat, bagai satu bangunan yang kokoh

Pemuda adalah Ibrahim
Yang dengan kampaknya menebas leher paganisme
Yang dengan kekuatan argumentasinya menghancurkan
keseimbangan sang tiran
Yang dengan kecerdasannya menemukan hakikat
kebenaran dibalik rahasia alam semesta
Yang dengan keberaniannya menundukkan panasnya bara api
Yang dengan keteguhan imannya mengarungi sahara yang tidak bertuan
Yang kecintaan pada rabb-nya mengalahkan segala sesuatu
Merelakan semua kemahalan pengorbanan

Pemuda adalah musa
Yang dengan tongkatnya meluluhlantakkan keangkuhan kebodohan
Yang dengan keberanian dan keimanannya membelah lautan merah
Yang dengan kekuatannya membunuh sang angkara
Yang dengan ketegasannya menciptakan sistim kepemimpinan
di tengah kaum yang terpecah belah

Pemuda adalah Isa
Yang dengan ketulusan kasih sayangnya mencairkan kebekuan hati
Yang dengan kelembutannya menumbuhkan kehidupan
Yang pengorbanan tanpa pamrihnya menyinari
kegelapan paradigma materialis
Yang kejernihan hatinya menguak segala rahasia kejahatan

Pemuda adalah Muhammad
Yang didirinya terhimpun segala potensi kebaikan
Yang kekuatan perjuangannya menghancurkan peradaban rendah
untuk kemudian
membangun ketinggian hakikat peradaban kemanusiaan
Yang kecintaan pada rabb-nya membuatnya tak peduli
apapun yang menimpanya
Yang ketinggian akhlaknya membuat hormat dan pujian dari seluruh alam
Yang kecintaan pada ummatnya membuatnya tak tenang istirahat
Yang kezuhudannya telah mengharamkan diri dan keluarganya
Dari obsesi gemilang materi
Yang ketinggian namanya selalu disebut sampai hari kiamat

Pemuda,
Dipundakmu lah tertumpu berjuta harapan
Di dirimu lah terkumpul potensi keutamaan
Di tanganmu lah terlatak penyelesaian permasalahan ummat
Di matamu sinar kan menguak kegelapan
Di perjuanganmu tergantung bangunan ketinggian
Peradaban kemanusia

Pemuda,
Raihlah ketinggian
Gapailah kemuliaan
Temukan hakikat kebahagian
Tegarkan dirimu menghadai badai
Tinggalkan semua kepalsuan dan kesemuan
Menembus batas birunya langit
Karena disanalah akan engkau temui
Rabb-mu yang maha tinggi

Pemuda Islam adalah Pemuda Harapan

copas from somewhere… (baca : lupa)

Menatap Lembayung di Langit Jogja

23.10,  Jalan Palagan Tentara Pelajar, Sleman

Dulu, Sekarang, Masa Depan

Sebenarnya sudah dimulai ketika memulai santapan. Ketika menutup catatan kecil tentang Sm@rt, tangan mulai bergeriliya ke dalam saku untuk mengambil headset, dan melerai kabelnya yang sudah teruntel-untel. Pasang, lagu pertama adalah “Melodies of Life“, belum habis tergantikan oleh “Spirit Carries on“, belum juga habis tergantikan dengan “Lembayung Bali”. Lagu yang akhirnya membuat saya berpikir malam ini, dan belum tidur hingga saat ini (00.15)

“Lembayung Bali”… (senyum). Lagu itu terus berputar, bersamaan dengan datangnya senyum simpul dan perasaan yang tiba-tiba mendesir dalam hati dan pikiran… Sebuah kata pun terlintas… “Lembayung Jogja”.

Menatap lembayung di langit Bali
dan kusadari, betapa berharga kenanganmu…
Di kala jiwaku tak terbatas,
bebas berandai memulang waktu

Hingga masih… bisa kuraih dirimu
sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf,
masa yang telah kuingkari dan meninggalkanmu
Oooh cinta…

Teman yang terhanyut arus waktu…
mekar mendewasa…
MASIH KUSIMPAN SUARA TAWA KITA…
kembalilah sahabat lawasku,
semarakkan keheningan lubuk

Hingga masih… bisa kurangkul kalian
sosok yang mengaliri cawan hidupku
Bilakah kita MENANGIS BERSAMA
TEGAR MELAWAAN TEMPAAN… SEMANGATMU itu

Ooooh jingga…

Hingga masih bisa kujangkau cahaya
senyum yang menyalakan hasrat diriku
Bilakah kuhentikan pasir waktu
tak terbangun dari khayal keajaiban ini

Ooooh mimpi…

Andai ada satu cara
tuk kembali menatap agung surya-Mu
Lembayung Bali…

Hatipun berdesir menghayati setiap kata dalam lagu ini. Semua sama, hanya berbeda pada kata Bali dengan Jogja. Lagu ini merewind kembali, beberapa ingatan dan lintasan pikiran, yang membawa saya kesini, seperti ini, dan merasakan hal ini. Segala Puji bagi Allah…

Saya tidak bisa mengungkapkan apa yang saya rasakan disini. Karena rasa ini sangat complicated, dan memang rasanya lebih nyaman jika tetap pada tempatnya… Di dalam HATI.  Namun satu hal yang ingin saya katakan…

Ikhwahfillah,  Saya ingin suatu saat kita bisa reuni bersama dalam rahmat Nya. Saya ingin suatu saat saya bisa bercengkrama kembali dengan kalian, bercanda tawa, dan mengenang kembali semua yang saya rasakan saat ini… saya ingin berada di surga Nya bersama kalian… (wajah teduh, senyum simpul, dengan mata syahdu)

Ana ukhibbukum fillah ya akhi ukhti... (senyum)

*Teruntuk semua ikhwah filah, khususnya aktivis dakwah sekolah kota Jogja, fighters di Sm@rt Syuhada, saudara-saudara di KMAP, dan orang-orang spesial yang tidak bisa saya sebutkan disini…tiada kata yang bisa terucap selain…. Jazakumullah khoiron katsiron… Jazakumullah khoiron jazak… Terimakasih kawan, semoga Allah membalas kalian dengan balasan sebaik-baik balasan… (senyum)

*Saya membayangkan, 10 atau 20 tahun nanti, saya kembali ke kota ini, menyanyikan lagu ini, teringat kalian, teringat masa-masa indah bersama kalian… “Masih kusimpan suara tawa kita…”

Bukit Bintang, Raker Smart 2010

Recommended for u : Lembayung Bali – Saras Dewi mp3

(02.03)

Secuil kisah dari dari sebuah tali pendek bernama kehidupan

Jum’at, 1 mei 2009

Tadi saya baru saja melihat sebuah film. Lebih tepatnya cuplikan film. Harusnya sih full tapi karena baru nonton sedikit udah harus pergi buat ke warnet, jadi ga bisa nonton lengkap. Begitu pulang, filmnya dah bagian akhir…

Sebenarnya waktu nulis ini kepala udah berat banged, ngantuk, plus agak pusing. Di iringi radio MQ, yang sebenarnya justru ngebuat ga konsen cz kalo lagi nulis ini emang baiknya dalam keadaan sunyi, tapi ya gpp, jalani aja…

Film itu, jujur sampai sekarang lagi nulis saya lupa dengan judulnya, yang pasti itu kisah nyata (akhir2 ini jadi suka nonton kisah nyata). Mau tanya kakak tapi males, mungkin besok pagi aja. Film ini berkisah tentang seorang pemuda kaya yang di kehidupannya dia jarang (atau mungkin ga pernah) di hargai oleh ayahnya, selalu dianggap remeh gitu deh… singkat cerita akhirnya dia pun kabur dari rumah dan menjual semua barang yang ia bawa lalu membakar uang hasil penjualannya. Jadi dia bener2 bertualang tanpa bekal, hanya beberapa bekal yang ia dapat dari orang yang ia temui di jalan. Yah mungkin mirip2 back packer gitu ya…

Nah di film ini dikisahkan bahwa dia berpetualang ke Alaska. Nama tempatnya saya lupa, tapi peraturan jika mau pergi kesana adalah berangkat sebelum musim dingin atau di awal musim dingin dan pulang sebelum musin semi. Cz kalo dah musim semi, sungai yang tadinya kecil dan mudah dilewati menjadi sangat besar dan deras, dan tidak mungkin untuk dilewati.

Cerita punya cerita, akhirnya ia pun melakukan kesalahan bodoh itu. Dia berangkat dengan semacam bus sekolah orang2 sana, dengan waktu yang melewati batas yang telah disebutkan di atas. Dan akhirnya dia pun terjebak dan kehabisan bekal. Dengan habis nya bekal ia pun mulai cari tanaman yang bisa dimakan, tapi sialnya lagi dia justru salah mengambil tanaman. Niatnya mau ngambil yang bisa dimakan, malah ngambil yang beracun. Alhasil diapun keracunan, melemah dan membuat keadaan ketika itu semakin parah. Dan akhirnya  dia pun akhirnya meninggal karena keracunan plus kelaparan. Sad ending sekaligus membuat berpikir… (berpikir?)

Dua minggu setelah itu seorang pemburu rusa akhirnya menemukan mini busnya dan diary yang dia tulis selama perjalannya. Dari sinilah film itu di buat…

Melihat film ini, hal pertama yang saya pikirkan, “Kasihan sekali pemuda itu… hidupnya sia-sia… bagaimana di akhiratnya ya?”. Film itu menggambarkan perasaan seorang pemuda, yang haus akan perhatian, ingin bebas, merasa paling benar, dll. Yang dalam fil ini, atas dasar itulah akhirnya ia pun kabur dari rumah nya dan melakukan petualangan, semacam journey untuk mencari jati diri.

Namun akhirnya jalan hidup memberikan dia akhir yang menyedihkan yaitu “penyesalan”. Di akhir hayat nya dikisahkan bahwa dia mengingat ayahnya, ibunya, keluarganya, teman2nya, orang2 yang ia temui di perjalanan dan orang-orang yang menolongnya. Saya menangkap dari siratan sikap dan matanya, dia nampak bersedih… bersedih karena dia tidak bisa membahagiakan mereka, bersedih karena dia telah mengecewakan mereka, bersedih karena dia harus mati dengan kondisi yang begitu menyedihkan, bersedih bersama pergolakan jiwa yang begitu kompleks. Saya bisa merasakannya tapi mungkin tidak cukup baik untuk mengungkapkanya disini.

Namun ada sebuah hal yang saya dapat dari film tersebut…Jadi sebelum orang ini meninggal karena kelaparan dan keracunan tadi, dia sempat untuk menuliskan kata-kata terakhirnya.

“Happiness only real when shared”

Kebahagiaan hanyalah nyata ketika diberikan kepada sesama…

……………………………

“Ayat-ayat” Allah turun di Gaza

 

Aksi Solideritas Untuk Palestina

 

Gaza, itulah nama hamparan tanah yang luasnya tidak lebih dari 360 km persegi. Berada di Palestina Selatan, “potongan” itu “terjepit” di antara tanah yang dikuasai penjajah Zionis Israel, Mesir, dan laut Mediterania, serta dikepung dengan tembok di sepanjang daratannya.

Sudah lama Israel “bernafsu” menguasai wilayah ini. Namun, jangankan menguasai, untuk bisa masuk ke dalamnya saja Israel tidak mampu.

Sudah banyak cara yang mereka lakukan untuk menundukkan kota kecil ini. Blokade rapat yang membuat rakyat Gaza kesulitan memperoleh bahan makanan, obat-obatan, dan energi, telah dilakukan sejak 2006 hingga kini. Namun, penduduk Gaza tetap bertahan, bahkan perlawanan Gaza atas penjajahan Zionis semakin menguat.

Akhirnya Israel melakukan serangan “habis-habisan” ke wilayah ini sejak 27 Desember 2008 hingga 18 Januari 2009. Mereka”mengguyurkan” ratusan ton bom dan mengerahkan semua kekuatan hingga pasukan cadangannya.

Namun, sekali lagi, negara yang tergolong memiliki militer terkuat di dunia ini harus mundur dari Gaza.

Di atas kertas, kemampuan senjata AK 47, roket anti tank RPG, ranjau, serta beberapa jenis roket buatan lokal yang biasa dipakai para mujahidin Palestina, tidakakan mampu menghadapi pasukan Israel yang didukung tank Merkava yang dikenal terhebat di dunia. Apalagi menghadapi pesawat tempur canggih F-16, heli tempurApache, serta ribuan ton “bom canggih” buatan Amerika Serikat.

Akan tetapi di sana ada “kekuatan lain” yang membuat para mujahidin mampu membuat “kaum penjajah” itu hengkang dari Gaza dengan muka tertunduk, walau hanya dengan berbekal senjata-senjata “kuno”.

Itulah pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang diberikan kepada para pejuangnya yang taat dan ikhlas. Kisah tentang munculnya “pasukan lain” yang ikutbertempur bersama para mujahidin, semerbak harum jasad para syuhada, serta beberapa peristiwa “aneh” lainnya selama pertempuran, telah beredar di kalanganmasyarakat Gaza, ditulis para jurnahs, bahkan disiarkan para khatib Palestina di khutbah-khutbah Jumat mereka.

Wartawan kami, Thoriq, merangkum kisah-kisah “ajaib” tersebut dari berbagai sumber untuk para pembaca yang budiman. Selamat mengikuti. ***

Pasukan “Berseragam Putih di Gaza

Ada “pasukan lain” membantu para mujahidin Palestina. Pasukan Israel sendiri mengakui adanya pasukan berseragam putih itu.

Suatu hari di penghujung Januari 2009, sebuah rumah milik keluarga Dardunah yang berada di antara Jabal Al Kasyif dan Jabal Ar Rais, tepatnya di jalan Al Qaram, didatangi oleh sekelompok pasukan Israel.

Seluruh anggota keluarga diperintahkan duduk di sebuah ruangan. Salah satu anak laki-laki diinterogasi mengenai ciri-ciri para pejuang al-Qassam.

Saat diinterogasi, sebagaimana ditulis situs Filisthin Al Aan (25/1/2009), mengutip cerita seorang mujahidin al-Qassam, laki-laki itu menjawab dengan jujur bahwa para pejuang al-Qassam mengenakan baju hitam-hitam. Akan tetapi tentara itu malah marah dan memukulnya hingga laki-laki malang itu pingsan.

Selama tiga hari berturut-turut, setiap ditanya, laki-laki itu menjawab bahwa para pejuang al-Qassam memakai seragam hitam. Akhirnya, tentara itu naik pitam dan mengatakan dengan keras, “Wahai pembohong! Mereka itu berseragam putih!”

Cerita lain yang disampaikan penduduk Palestina di situs milik Brigade Izzuddin al-QassamMultaqa al-Qasami, juga menyebutkan adanya “pasukan lain” yang tidak dikenal. Awalnya, sebuah ambulan dihentikan oleh sekelompok pasukan Israel. Sopirnya ditanya apakah dia berasal dari kelompok Hamas atau Fatah? Sopir malang itu menjawab, “Saya bukan kelompok mana-mana. Saya cuma sopir ambulan.”

Akan tetapi tentara Israel itu masih bertanya, “Pasukan yang berpakaian putih-putih dibelakangmu tadi, masuk kelompok mana?” Si sopir pun kebingungan, karena ia tidak melihat seorangpun yang berada di belakangnya. “Saya tidak tahu,” jawabansatu-satunya yang ia miliki.

SuaraTak Bersumber

Ada lagi kisah karamah mujahidin yang kali ini disebutkan oleh khatib masjidIzzuddin Al Qassam di wilayah Nashirat Gaza yang telah ditayangkan oleh TVchannel Al Quds, yang juga ditulis oleh Dr Aburrahman Al Jamal di situs Al Qassam dengan judul Ayaat Ar Rahman fi Jihad Al Furqan (Ayat-ayat Allah dalam Jihad Al Furqan).

Sang khatib bercerita, seorang pejuang telah menanam sebuah ranjau yang telah disiapkan untuk menyambut pasukan Zionis yang melalui jalan tersebut.

“Saya telah menanam sebuah ranjau. Saya kemudian melihat sebuah helikopter menurunkan sejumlah besar pasukan disertai tank-tank yang beriringan menuju jalan tempat saya menanam ranjau,” kata pejuang tadi.

Akhirnya, sang pejuang memutuskan untuk kembali ke markas karena mengira ranjau itu tidak akan bekerja optimal. Maklum, jumlah musuh amat banyak.

Akan tetapi, sebelum beranjak meninggalkan lokasi, pejuang itu mendengar suara“Utsbut, tsabatkallah” yang maknanya kurang lebih, “tetaplah di tempat maka Allah menguatkanmu.” Ucapan itu ia dengar berulang-ulang sebanyak tiga kali.

“Saya mencari sekeliling untuk mengetahui siapa yang mengatakan hal itu kapada saya. Akan tetapi saya malah terkejut, karena tidak ada seorang pun yang bersama saya,” ucap mujahidin itu, sebagaimana ditirukan sang khatib.

Akhirnya sang mujahid memutuskan untuk tetap berada di lokasi. Ketika sebuah tank melewati ranjau yang tertanam, sesualu yang “ajaib” terjadi. Ranjau itu justru meledak amat dahsyat. Tank yang berada di dekatnya langsung hancur. Banyak serdadu Israel meninggal seketika. Sebagian dari mereka harus diangkut oleh helikopter. “Sedangkan saya sendiri dalam keadaan selamat,” kata mujahid itu lagi, melalui lidah khatib.

Cerita yang disampaikan oleh seorang penulis Mesir, Hisyam Hilali, dalam situsalraesryoon.com, ikut mendukung kisah-kisah sebelumnya. Abu Mujahid, salah seorang pejuang yang melakukan ribath (berjaga) mengatakan, “Ketika saya mengamati gerakan tank-tank di perbatasan kota, dan tidak ada seorang pun di sekitar, akan tetapi saya mendengar suara orang yang bertasbih dan beritighfar. Saya berkali-kali mencoba untuk memastikan asal suara itu, akhirnya saya memastikan bahwa suara itu tidak keluar kecuali dari bebatuan dan pasir.”

Cerita mengenai “pasukan tidak dikenal” juga datang dari seorang penduduk rumah susun wilayah Tal Islam yang handak mengungsi bersama keluarganya untuk menyelamatkan diri dari serangan Israel.

Di tangga rumah ia melihat beberapa pejuang menangis. “Kenapa kalian menangis?” tanyanya.

“Kami menangis bukan karena khawatir keadaan diri kami atau takut dari musuh. Kami menangis karena bukan kami yang bertempur. Di sana ada kelompok lain yang bertempur memporak-porandakan musuh, dan kami tidak tahu dari mana mereka datang,” jawabnya

Saksi Serdadu Israel

Cerita tentang “serdadu berseragam putih” tak hanya diungkap oleh mujahidin Palestina atau warga Gaza. Beberapa personel pasukan Israel sendiri menyatakan hal serupa.

Situs al-Qassam memberitakan bahwa TV Channel 10 milik Israel telah menyiarkan seorang anggota pasukan yang ikut serta dalam pertempuran Gaza dankembali dalam keadaan buta.

“Ketika saya berada di Gaza, seorang tentara berpakaian putih mendatangi saya dan menaburkan pasir di mata saya, hingga saat itu juga saya buta, kata anggota pasukan ini.

Di tempat lain ada serdadu Israel yang mengatakan mereka pernah berhadapan dengan “hantu”. Mereka tidak diketahui dari mana asalnya, kapan munculnya, dan ke mana menghilangnya.

Masih dari Channel 10, seorang Lentara Israel lainnya mengatakan, “Kami berhadapan dengan pasukan berbaju putih-putih dengan jenggot panjang. Kami tembak dengan senjata, akan tetapi mereka tidak mati.”

Cerita ini menggelitik banyak pemirsa. Mereka bertanya kepada Channel 10, siapa sebenarnya pasukan berseragam putih itu? ***

Sudah Meledak, Ranjau Masih Utuh

Di saat para mujahidin terjepit, hewan-hewan dan alam tiba-tiba ikut membantu, bahkan menjelma menjadi sesuatu yang menakutkan.

Sebuah kejadian “aneh” terjadi di Gaza Selatan, tepatnya di daerah AI Maghraqah. Saat itu para mujahidin sedang memasang ranjau. Di saat mengulur kabel, tiba-tiba sebuah pesawat mata-mata Israel memergoki mereka. Bom pun langsung jatuh ke lokasi itu.

Untunglah para mujahidin selamat. Namun, kabel pengubung ranjau dan pemicu yang tadi hendak disambung menjadi terputus. Tidak ada kesempatan lagi untuk menyambungnya, karena pesawat masih berputar-putar di atas.

Tak lama kemudian, beberapa tank Israel mendekati lokasi di mana ranjau-ranjau tersebut ditanam. Tak sekadar lewat, tank-tank itu malah berhenti tepat di atas peledak yang sudah tak berfungsi itu.

Apa daya, kaum Mujahidin tak bisa berbuat apa-apa. Kabel ranjau jelas tak mungkin disambung, sementara tank-tank Israel telah berkumpul persis di atas ranjau.

Mereka merasa amat sedih, bahkan ada yang menangis ketika melihat pemandangan itu. Sebagian yang lain berdoa, “allahumma kama lam tumakkinna minhum, allahumma la tumakkin lahum,” yang maknanya, “Ya Allah, sebagaimanaengkau tidak memberikan kesempatan kami menghadapi mereka, jadikanlah mereka juga lidak memiliki kesempatan serupa.”

Tiba-tiba, ketika fajar tiba, terjadilah keajaiban. Terdengar ledakan dahsyat persis di lokasi penanaman ranjau yang tadinya tak berfungsi.

Setelah Tentara Israel pergi dengan membawa kerugian akibat ledakan lersebut, para mujahidin segera melihal lokasi ledakan. Sungguh aneh, ternyata seluruh ranjau yang telah mereka tanam itu masih utuh. Dari mana datangnva ledakan? Wallahu a’lam.

Masih dari wilayah Al Maghraqah. Saat pasukan Israel menembakkan artileri ke salah satu rumah, hingga rumah itu terbakar dan api menjalar ke rumah sebelahnya,para mujahidin dihinggapi rasa khawatir jika api itu semakin tak terkendali.

Seorang dari mujahidin itu lalu berdoa,”Wahai Dzat yang merubah api menjadi dingin dan tidak membahayakan untuk Ibrahim, padamkanlah api itu dengan kekuatan-Mu.”

Maka, tidak lebih dari tiga menit, api pun padam. Para niujahidin menangis terharu karena mereka merasa Allah Subhanuhu wa Ta’ala (SWT) telah memberi pertolongan dengan terkabulnya doa mereka dengan segera.

Merpati dan Anjing

Seorang mujahid Palestina menuturkan kisah “aneh” lainnya kepada situs Filithin AlAan (25/1/ 2009). Saat bertugas di wilayah Jabal Ar Rais, sang mujahid melihat seekor merpati terbang dengan suara melengking, yang melintas sebelum rudal-rudal Israel berjatuhan di wilayah itu.

Para mujahidin yang juga melihat merpati itu langsung menangkap adanya isyarat yang ingin disampaikan sang merpati.

Begitu merpali itu melintas, para mujahidin langsung berlindung di tempat persembunyian mereka. Ternyata dugaan mereka benar. Selang beberapa saat kemudian bom-bom Israel datang menghujan. Para mujahidin itu pun selamat.

Adalagi cerita “keajaiban” mengenai seekor anjing, sebagaimana diberitakan situsFilithin Al Aan. Suatu hari, tatkala sekumpulan mujahidin Al Qassam melakukan ribathdi front pada tengah malam, tiba-tiba muncul seekor anjing militer Israel jenis doberman. Anjing itu kelihatannya memang dilatih khusus untuk membantu pasukan Israel menemukan tempat penyimpanan senjata dan persembunyian para mujahidin.

Anjing besar ini mendekat dengan menampakkan sikap tidak bersahabat. Salah seorang mujahidin kemudian mendekati anjing itu dan berkata kepadanya, “Kami adalah para mujahidin di jalan Allah dan kami diperintahkan untuk tetap berada ditempat ini. Karena itu, menjauhlah dari kami, dan jangan menimbulkan masalah untuk kami.”

Setelah itu, si anjing duduk dengan dua tangannya dijulurkan ke depan dan diam. Akhirnya, seorang mujahidin yang lain mendekatinya dan memberinya beberapa korma. Dengan tenang anjing itu memakan korma itu, lalu beranjak pergi.

Kabut pun Ikut Membantu

Ada pula kisah menarik yang disampaikan oleh komandan lapangan Al Qassam di kamp pengungsian Nashirat, langsung setelah usai shalat dhuhur di masjid Al Qassam (17/1/2009).

Saat itu sekelompok mujahidin yang melakukan ribath di Tal Ajul terkepung oleh tank-tank Israel dan pasukan khusus mereka. Dari atas, pesawat mata-mata terus mengawasi.

Di saat posisi para mujahidin terjepit, kabut tebal tiba-tiba turun di malam itu. Kabut itu lelah menutupi pandangan mata tentara Israel dan membantu pasukan mujahidin keluar dari kepungan.

Kasus serupa diceritakan oleh Abu Ubaidah. salah satu pemimpin lapangan Al Qassam, sebagaimana ditulis situs almesryoon.com. la bercerita bagaimana kabut tebal tiba-tiba turun dan membatu para mujahidin untuk melakukan serangan.

Awalnya, pasukan mujahiddin tengah menunggu waktu yang tepat untuk mendekati tank-tank tentara Israel guna meledakkannya. “Tak lupa kami berdoakepada Allah agar dimudahkan untuk melakukan serangan ini,” kata Abu Ubaidah.

Tiba-tiba turunlah kabut tebal di tempat tersebut. Pasukan mujahidin segera bergerak menyelinap di antara tank-tank, menanam ranjau-ranjau di dekatnya, dan segera meninggalkan lokasi tanpa diketahui pesawat mata-mata yang memenuhi langit Gaza, atau oleh pasukan infantri Israel yang berada di sekitar kendaraan militer itu. Lima tentara Israel tewas di tempat dan puluhan lainnya luka-luka setelah ranjau-ranjau itu meledak.

Selamat dengan al-Qur’an

Cerita ini bermula ketika salah seorang pejuang yang menderita luka memasukirumah sakit As Syifa’. Seorang dokter yang memeriksanya kaget ketikamengelahui ada sepotong proyektil peluru bersarang di saku pejuang tersebut.

Yang membuat ia sangat kaget adalah timah panas itu gagal menembus jantung sang pejuang karena terhalang oleh sebuah buku doa dan mushaf al-Qur’an yang selalu berada di saku sang pejuang.

Buku kumpulun doa itu berlobang, namun hanya sampul muka mushaf itu saja yang rusak, sedangkan proyektil sendiri bentuknya sudah “berantakan”.

Kisah ini disaksikan sendiri oleh Dr Hisam Az Zaghah, dan diceritakannya saat Festival Ikatan Dokter Yordan sebagaimana ditulis situs partai Al Ikhwan Al Muslimun (23/1/2009).

Dr Hisam juga memperlihatkan bukti berupa sebuah proyektil peluru, mushaf Al Qur’an, serta buku kumpulan doa-doa berjudul Hishnul Muslim yang menahan peluru tersebut.

Abu Ahid, imam Masjid AnNur di Hay As Syeikh Ridzwan, juga punya kisah menarik. Sebelumnya, Israel telah menembakkan 3 rudalnya ke masjid itu hingga tidak tersisa kecuali hanya puing-puing bangunan. “Akan tetapi mushaf-mushaf Al Quran tetap berada di tampatnya dan tidak tersentuh apa-apa,” ucapnya seraya tak henti bertasbih.

“Kami temui beberapa mushaf yang terbuka tepat di ayat-ayat yang mengabarkan tentang kemenangan dan kesabaran, seperti firman Allah, ‘Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, danbuah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka berkata, sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali,”(Al-Baqarah [2]: 155-156),” jelas Abu Ahid sebagaimana dikutip Islam Online (15/1/2009).***

 

Harum Jasad Para Syuhada

Abdullah As Shani1 adalah anggota kesatuan sniper (penembak jitu) al-Qassam yang menjadi sasaran rudal pesawat F-16 Israel ketika sedang berada di pos keamanan di Nashirat, Gaza.

Jasad komandan lapangan al-Qassam dan pengawal khusus para tokoh Hamas ini “hilang” setelah terkena rudal. Selama dua hari jasad tersebut dicari, ternyata sudah hancur tak tersisa kecuali serpihan kepala dan dagunya. Serpihan-serpihan tubuh itu kemudian dikumpulkan dan dibawa pulang ke rumah oleh keluarganya untuk dimakamkan.

Sebelum dikebumikan, sebagaimana dirilis situs syiria-aleppo. com (24/1/2009), serpihan jasad tersebut sempat disemayamkan di sebuah ruangan di rumah keluarganya. Beberapa lama kemudian, mendadak muncul bau harum misk dari ruangan penyimpanan serpihan tubuh tadi.

Keluarga Abdullah As Shani’ terkejut lalu memberitahukan kepada orang-orang yang mengenal sang pejuang yang memiliki kuniyah (julukan) Abu Hamzah ini.

Lalu, puluhan orang ramai-ramai mendatangi rumah tersebut untuk mencium bau harum yang berasal dari serpihan-serpihan tubuh yang diletakkan dalam sebuah kantong plastik.

Bahkan, menurut pihak keluarga, 20 hari setelah wafatnya pria yang tak suka menampakkan amalan-amalannya ini, bau harum itu kembali semerbak memenuhi rungan yang sama.

Cerita yang sama terjadi juga pada jenazah Musa Hasan Abu Nar, mujahid Al Qassam yang juga syahid karena serangan udara Israel di Nashiriyah. DrAbdurrahman Al Jamal, penulis yang bermukim di Gaza, ikut mencium bau harum dari sepotong kain yang terkena darah Musa Hasan Abu Nar. Walau kain itu telah dicuci berkali-kali, bau itu tetap semerbak.

Ketua Partai Amal Mesir, Majdi Ahmad Husain, menyaksikan sendiri harumnya jenazah para syuhada. Sebagaunana dilansir situs Al Quds Al Arabi (19/1/2009), saat masih berada di Gaza, ia menyampaikan, “Saya telah mengunjungi sebagian besar kota dan desa-desa. Saya ingin melihat bangunan-bangunan yang hancur karena serangan Israel. Percayalah, bahwa saya mencium bau harumnya para syuhada.”

Dua Pekan Wafat, Darah Tetap Mengalir

Yasir Ali Ukasyah sengaja pergi ke Gaza dalam rangka bergabung dengan sayap milisi pejuang Hamas, Brigade Izzuddin al-Qassam. Ia meninggalkan Mesir setelah gerbang Rafah, yang menghubungkan Mesir-Gaza, terbuka beberapa bulan lalu.

Sebelumnya, pemuda yang gemar menghafal al-Qur’an ini sempat mengikuti wisuda huffadz (para penghafal) al-Qur’an di Gaza dan bergabung dengan para mujahidin untuk memperoleh pelatihan militer. Sebelum masuk Gaza, di pertemuan akhir dengan salah satu sahabatnya di Rafah, ia meminta didoakan agar memperoleh kesyahidan.

Untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, di bumi jihad Gaza, ia telah memperoleh apa yang ia cita-citakan. Yasir syahid dalam sebuah pertempuran dengan pasukan Israel di kamp pengungsian Jabaliya.

Karena kondisi medan, jasadnya baru bisa dievakuasi setelah dua pekan wafatnya di medan pertempuran tersebut.

Walau sudah dua pekan meninggal, para pejuang yang ikut serta melakukan evakuasi menyaksikan bahwa darah segar pemuda berumur 21 tahun itu masih mengalir dan fisiknya tidak rusak. Kondisinya mirip seperti orang yang sedang tertidur.

Sebelum syahid, para pejuang pernah menawarkan kepadanya untuk menikah dengan salah satu gadis Palestina, namun ia menolak. “Saya meninggalkan keluarga dan tanah air dikarenakan hal yang lebih besar dari itu,” jawabnya.

Kabar tentang kondisi jenazah pemuda yang memiliki kuniyah Abu Hamzah beredar di kalangan penduduk Gaza. Para khatib juga menjadikannya sebagai bahankhutbah Jumat mereka atas tanda-tanda keajaiban perang Gaza. Cerita ini juga dimuat oleh Arab Times (7/2/ 2009)

Terbunuh 1.000, Lahir 3.000

Hilang seribu, tumbuh tiga ribu. Sepertinya, ungkapan ini cocok disematkan kepada penduduk Gaza. Kesedihan rakyat Gaza atas hilangnya nyawa 1.412 putra putrinya, terobati dengan lahirnya 3.700 bayi selama 22 hari gempuran Israel terhadap kota kecil ini.

Hamam Nisman, Direktur Dinas Hubungan Sosial dalam Kementerian Kesehatan pemerintahan Gaza menyatakan bahwa dalam 22 hari 3.700 bayi lahir di Gaza. “Mereka lahir antara tanggal 27 Desember 2008 hingga 17 Januari 2009, ketika Israel melakukan serangan yang menyebabkan meninggalnya 1.412 rakyat Gaza, yang mayoritas wanita dan anak-anak,” katanya.

Bulan Januari tercatat sebagai angka kelahiran tertinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya. “Setiap tahun 50 ribu kasus kelahiran tercatat di Gaza. Dan, dalam satu bulan tercatat 3.000 hingga 4.000 kelahiran. Akan tetapi di masa serangan Israel 22hari, kami mencatat 3.700 kelahiran dan pada sisa bulan Januari tercatat 1.300 kelahiran. Berarti dalam bulan Januari terjadi peningkatan kelahiran hingga 1.000 kasus,” katanya kepada islamonline.net (2/2/ 2009).

Rasio antara kematian dan kelahiran di Gaza memang tidak sama. Angka kelahiran, jelasnya lagi, mencapai 50 ribu tiap tahun, sedang kematian mencapai 5 ribu.

“Israel sengaja membunuh para wanita dan anak-anak untuk menghapus masa depan Gaza. Sebanyak 440 anak-anak dan 110 wanita telah dibunuh dan 2.000 anak serta 1.000 wanita mengalami luka-luka,” ungkapnya. ***

Sumber: Majalah Hidayatullah EDISI 11| XXI | Maret 2009 /Rabiul Ula 1430

 

dan batu pun berkata

 

 

Mimpi para ulama rasulullah ikut bejihad di Gaza

————————————————————————–
Seorang ulama di Riyadh, Syeikh Sinkithi, bermimpi bertemu dengan Rasulullah saw yang sedang marah dan bersiap-siap hendak bepergian.

Alim tersebut bertanya, “Hendak pergi kemana wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Ke Gaza.”

Kisah ini diceritakan oleh Khalid Misy’al, Kepala Biro Politik Hamas, kepada channel Al Majdi (16/1/09), mengutip cerita Syaikh Muhammad Al Hasan Walad Ad Dadu.

Anehnya, kisah ini yang terekam disitus Syaikh Ad Dadu, dedew.net, ini tidak hanya dialami seorang saja. Hal yang sama dialami oleh Syeikh Ahmad Al Qathan, dai terkemuka di Kuwait, sebagaimana dimuat dalam situs saeed.net.

Imam masjid Al Iman Yaman, Amir bin Muhammad Al Madari, menyebutkan bahwa, setelah bersumpah, Syeikh Ahmad Al Qathan menyatakan dirinya bermimpi bertemu Rasulullah saw sedang memerangi Yahudi bersama para mujahidin Gaza.

 

————————————————————————————

Israel akan tetap berdiri, dan terus berdiri sampai umat Islam menghancurkannya dengan sebernar2nya kehancuran. Allahu Akbar!!

 

Bangkitlah Mujahid